Bukan Sekadar Bisa Memperbaiki Motor, Siswa SMK Balikpapan Ditempa Jadi Mekanik Berstandar Industri

Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Kemampuan membongkar dan memperbaiki sepeda motor bukan satu-satunya bekal yang dibutuhkan untuk menjadi mekanik profesional. Ketelitian membaca keluhan konsumen, disiplin menjalankan prosedur hingga memastikan kendaraan benar-benar aman sebelum diserahkan kembali menjadi bagian penting dari pekerjaan di bengkel.

Gambaran tersebut menjadi bagian dari proses pembinaan siswa magang jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM) di jaringan bengkel resmi AHASS. Para siswa tidak hanya berhadapan langsung dengan persoalan teknis kendaraan, tetapi juga diperkenalkan pada budaya kerja dan standar kualitas yang diterapkan di lingkungan industri.

Dalam praktik terbaru, siswa SMK Negeri 6 Balikpapan mendapatkan pembekalan mengenai Quality Control atau kendali mutu. Materi tersebut dipandu langsung mekanik profesional AHASS, Deny, yang mendampingi siswa memahami bagaimana sebuah pekerjaan servis harus dilakukan secara sistematis dari awal hingga akhir.

Bagi siswa magang, proses tersebut memberikan gambaran bahwa satu pekerjaan servis memiliki rangkaian tahapan yang saling berkaitan. Kesalahan atau kelalaian pada satu tahap dapat memengaruhi kualitas pekerjaan secara keseluruhan.

Tahapan pertama dimulai sebelum sepeda motor dikerjakan atau pre-service. Pada fase ini, siswa dilatih melakukan pemeriksaan awal secara teliti. Bukan hanya mencatat keluhan pelanggan, mereka juga belajar bagaimana menyambut konsumen dengan baik serta melindungi bagian bodi kendaraan menggunakan cover agar tetap bersih dan aman selama proses servis.

Setelah itu, siswa masuk pada fase during service. Pekerjaan perawatan atau perbaikan harus mengacu pada lembar perintah kerja (PKB), menggunakan peralatan yang sesuai standar pabrikan serta mengikuti prosedur keselamatan kerja.

Di sinilah ketelitian teknis menjadi penting. Setiap komponen harus dikerjakan sesuai prosedur sehingga pekerjaan tidak hanya selesai secara cepat, tetapi juga memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.

Namun, proses belum berakhir ketika perbaikan selesai.

Pada fase post-service dan final quality control, siswa diperkenalkan dengan proses pemeriksaan akhir. Kendaraan perlu diuji untuk memastikan fungsi komponen bekerja sebagaimana mestinya.

Pengecekan dapat mencakup fungsi rem, kelistrikan hingga kondisi kebersihan unit. Jika diperlukan, dilakukan test ride untuk memastikan sepeda motor berada dalam kondisi yang layak sebelum dikembalikan kepada konsumen.

Tahapan akhir tersebut menjadi salah satu pelajaran penting bagi siswa karena kualitas pekerjaan mekanik pada akhirnya akan dirasakan langsung oleh pengguna kendaraan.

Manager Technical Service Department Astra Motor Kaltim 1, Iqbal Safii, mengatakan pendampingan di AHASS diarahkan agar siswa memperoleh pengalaman kerja yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis.

“Melalui pendampingan terstruktur bersama mekanik Deny, siswa SMK Negeri 6 Balikpapan tidak hanya dibekali keahlian teknis mekanikal semata, melainkan juga ditanamkan mentalitas kerja profesional yang menjunjung tinggi kedisiplinan SOP dan budaya mutu di lingkungan kerja AHASS,” ujar Iqbal.

Pendekatan tersebut membuat proses magang menjadi lebih dari sekadar praktik memperbaiki kendaraan. Siswa diperkenalkan dengan pola kerja industri yang menempatkan prosedur, keselamatan dan kepuasan konsumen sebagai satu kesatuan.

Bagi dunia vokasi, pengalaman seperti ini juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk melihat secara langsung bagaimana ilmu yang dipelajari di sekolah diterapkan dalam lingkungan kerja sebenarnya.

Sementara bagi industri, keterlibatan mekanik berpengalaman dalam proses pendampingan menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan standar kerja sejak dini kepada calon tenaga kerja otomotif.

Dengan pembinaan yang dilakukan secara terstruktur, siswa TBSM diharapkan tidak hanya keluar dari masa magang dengan kemampuan memperbaiki sepeda motor, tetapi juga membawa kebiasaan kerja yang disiplin, teliti dan bertanggung jawab.

Sebab, di balik sepeda motor yang kembali ke tangan konsumen dalam kondisi prima, terdapat proses panjang yang tidak hanya membutuhkan keterampilan tangan mekanik, tetapi juga kepatuhan terhadap standar dan budaya mutu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *