Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai diperhitungkan dalam strategi pengendalian inflasi di Kota Balikpapan. Program nasional yang bertujuan meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat ini diprediksi akan meningkatkan kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menyampaikan bahwa setiap dapur MBG diperkirakan melayani sekitar 3.000 penerima manfaat. Sementara itu, di Balikpapan direncanakan akan dibangun sekitar 65 dapur MBG.
Jika seluruh dapur tersebut beroperasi penuh, kebutuhan bahan pangan seperti beras, telur, ayam, hingga sayur-mayur diperkirakan meningkat cukup signifikan.
“Kalau satu dapur melayani sekitar 3.000 orang, tentu kebutuhan bahan pangan seperti beras, telur, ayam, dan lainnya akan cukup besar,” ujar Robi.
Menurutnya, peningkatan permintaan bahan pangan tersebut berpotensi memberi tekanan terhadap harga apabila tidak diantisipasi sejak awal. Karena itu, program MBG kini turut menjadi bagian dari pembahasan dalam upaya pengendalian inflasi daerah.
Untuk menjaga stabilitas harga pangan, pemerintah daerah bersama Bank Indonesia menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Salah satu strategi yang dirancang adalah memastikan pasokan bahan pangan untuk dapur MBG tidak diambil dari pasar tradisional.
Langkah tersebut dinilai penting agar kebutuhan program pemerintah tidak mengganggu ketersediaan barang di pasar yang selama ini menjadi sumber utama masyarakat.
“Diharapkan kebutuhan MBG tidak mengambil barang dari pasar tradisional karena bisa memengaruhi harga,” jelasnya.
Sebagai solusi, pemerintah menyiapkan skema pasokan langsung dari kelompok produksi yang dibina oleh organisasi perangkat daerah (OPD). Kelompok tersebut berasal dari berbagai sektor, seperti peternakan ayam, produsen telur, hingga kelompok hortikultura penghasil sayur-sayuran.
Skema tersebut merupakan hasil pembahasan dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah yang melibatkan pemerintah daerah serta Bank Indonesia.
Melalui mekanisme tersebut, kebutuhan bahan pangan dapur MBG akan dihubungkan langsung dengan kelompok produsen sehingga tercipta rantai pasok yang lebih efisien dan tidak mengganggu distribusi pangan di pasar.
“Ada kelompok peternak ayam, produsen telur, juga hortikultura seperti sayur-sayuran yang nantinya dilink-kan dengan kebutuhan MBG,” kata Robi.
Saat ini operasional dapur MBG di Balikpapan masih berjalan secara bertahap. Dari rencana sekitar 65 dapur, baru sekitar 29 dapur yang telah beroperasi.
Meski dampaknya terhadap kebutuhan pangan masih terbatas, pemerintah daerah bersama Bank Indonesia tetap melakukan antisipasi sejak dini agar ketika seluruh dapur MBG mulai beroperasi, stabilitas harga pangan di masyarakat tetap terjaga. (*)












