Lintasbalikpapan.com – Atalanta kembali memperlihatkan karakter kuatnya saat bermain di kandang sendiri. Menjamu Cremonese pada lanjutan giornata ke-24 Liga Italia Serie A, La Dea sukses mengamankan tiga poin penting lewat kemenangan 2-1. Hasil ini bukan sekadar angka di papan skor, melainkan cerminan perbedaan efektivitas kedua tim dalam memanfaatkan peluang.
Sejak menit awal, Atalanta tampil dengan intensitas tinggi. Mereka tidak mendominasi penguasaan bola secara berlebihan, namun mampu bermain langsung dan tajam ketika memasuki sepertiga akhir lapangan. Gol pembuka dari Nicola Krstovic menjadi bukti bagaimana satu momen bisa mengubah ritme pertandingan. Kontrol singkat dan eksekusi cepat membuat pertahanan Cremonese tak sempat berbenah.
Gol kedua yang dicetak Davide Zappacosta semakin menegaskan keunggulan Atalanta dalam membaca ruang. Pergerakan dari sisi sayap hingga masuk ke kotak penalti dilakukan dengan timing yang tepat. Meski Emil Audero sudah berusaha menutup sudut, kualitas penyelesaian membuat bola tak terjangkau. Babak pertama pun ditutup dengan keunggulan dua gol bagi tuan rumah.
Emil Audero dan Tekanan Berat di Lini Belakang
Bagi Cremonese, laga ini kembali menjadi gambaran masalah klasik yang belum terselesaikan: rapuhnya koordinasi lini belakang. Emil Audero, yang menjadi andalan di bawah mistar, sebenarnya beberapa kali menunjukkan refleks dan posisi yang baik. Namun tekanan bertubi-tubi membuatnya harus bekerja ekstra sepanjang pertandingan.
Memasuki babak kedua, Cremonese mencoba mengubah pendekatan dengan bermain lebih agresif. Mereka berani menaikkan garis pertahanan dan mengandalkan bola-bola silang untuk memaksimalkan postur Milan Duric. Strategi ini sempat memberi harapan lewat peluang sundulan yang nyaris berbuah gol, namun penyelamatan kiper Atalanta menggagalkan upaya tersebut.
Situasi semakin menegangkan saat Atalanta sempat mencetak gol tambahan dari skema bola mati. Beruntung bagi Cremonese, gol tersebut dianulir karena posisi offside. Momen ini menjadi alarm keras bahwa konsentrasi menjadi masalah utama tim tamu, terutama ketika menghadapi situasi set piece. Gol balasan di menit-menit akhir melalui Thorsby setidaknya menunjukkan mental pantang menyerah. Namun gol tersebut datang terlalu terlambat untuk mengubah hasil akhir.
Dampak Klasemen: Atalanta Makin Percaya Diri, Cremonese Terancam Zona Merah
Tambahan tiga poin membawa Atalanta semakin stabil di papan tengah atas klasemen Serie A. Dengan koleksi 39 poin dari 24 pertandingan, mereka kini hanya terpaut tipis dari zona Eropa. Konsistensi menjadi kunci bagi La Dea untuk terus bersaing, terutama menghadapi jadwal padat di sisa musim. Sebaliknya, posisi Cremonese kian mengkhawatirkan. Bertahan di peringkat 16 dengan 23 poin membuat jarak mereka dengan zona degradasi semakin tipis. Setiap kekalahan bukan hanya mengurangi poin, tetapi juga menambah tekanan psikologis bagi tim.
Jika ingin bertahan di Serie A, Cremonese perlu segera memperbaiki transisi bertahan dan meningkatkan efektivitas serangan. Tanpa perubahan nyata, perjuangan mereka di sisa musim akan semakin berat. Kekalahan dari Atalanta menjadi sinyal bahwa waktu untuk berbenah semakin sempit.






