Lintasbalikpapan.com – Vietnam U-23 kembali membuktikan diri sebagai kekuatan baru sepak bola Asia Tenggara dengan meraih peringkat ketiga Piala Asia U-23 2026. Kemenangan dramatis atas Korea Selatan lewat adu penalti bukan hanya soal hasil akhir, tetapi cerminan kematangan mental dan disiplin permainan yang terus berkembang dari Golden Star Warriors.
Bermain di King Abdullah Sports City Hall Stadium, Jeddah, Vietnam menunjukkan karakter tim yang tidak mudah goyah. Meski menghadapi lawan dengan tradisi kuat seperti Korea Selatan, para pemain Vietnam tampil percaya diri sejak menit awal. Mereka tidak terjebak bermain bertahan total, tetapi berani mengambil inisiatif melalui transisi cepat yang efektif. Keberhasilan ini menjadi penanda bahwa Vietnam bukan lagi sekadar kuda hitam, melainkan tim dengan identitas jelas, perencanaan matang, dan mental kompetitif di level Asia.
Strategi Efektif Vietnam U-23 dan Titik Balik Pertandingan
Gol pembuka Vietnam lahir dari skema yang sederhana namun mematikan. Serangan balik cepat yang diakhiri Nguyen Quoc Viet memperlihatkan bagaimana Vietnam membaca celah di lini pertahanan Korea Selatan. Keunggulan 1-0 di babak pertama memberi Vietnam momentum penting.
Namun, pertandingan berubah ketika Korea Selatan menyamakan skor di babak kedua. Alih-alih panik, Vietnam justru merespons cepat lewat gol tendangan bebas Nguyen Dinh Bac. Gol ini menunjukkan kualitas eksekusi bola mati yang sering kali menjadi pembeda di laga-laga krusial.
Situasi semakin menantang saat Vietnam harus bermain dengan 10 orang setelah kartu merah untuk sang kapten. Di titik inilah mental tim benar-benar diuji. Korea Selatan menekan habis-habisan hingga akhirnya mencetak gol penyama di masa injury time. Meski kehilangan keunggulan di detik-detik akhir, Vietnam tetap menjaga organisasi permainan saat laga berlanjut ke babak tambahan. Ketiadaan gol di extra time menjadi bukti bahwa Vietnam mampu bertahan secara kolektif, bukan mengandalkan satu atau dua pemain saja.
Adu Penalti dan Pelajaran Berharga bagi Sepak Bola Asia Tenggara
Adu penalti menjadi panggung pembuktian mental. Ketika skor terus berimbang hingga penendang ketujuh, tekanan berada di level tertinggi. Vietnam tampil lebih tenang, fokus, dan presisi, sementara Korea Selatan gagal menjaga konsistensi.
Kemenangan 7-6 di adu penalti menegaskan satu hal penting: mental dan kesiapan psikologis kini menjadi senjata utama Vietnam. Ini adalah pelajaran besar bagi negara-negara Asia Tenggara lainnya bahwa peningkatan kualitas tidak hanya soal fisik dan teknik, tetapi juga pengelolaan emosi di laga besar.
Hasil ini sekaligus menutup perjalanan Vietnam di Piala Asia U-23 2026 dengan catatan positif. Sementara itu, laga final mempertemukan China dan Jepang, dua kekuatan besar Asia, yang menandakan semakin ketatnya persaingan di level usia muda.
Bagi Vietnam, posisi ketiga ini bukan akhir, melainkan fondasi kuat menuju masa depan sepak bola yang lebih kompetitif di Asia.






