Lintasbalikpapan.com, BALIKPAPAN – Aktivitas touring atau berkendara secara berkelompok semakin diminati para pecinta sepeda motor. Namun, di balik keseruannya, touring memerlukan disiplin dan penerapan prosedur keselamatan agar perjalanan berlangsung aman bagi seluruh peserta maupun pengguna jalan lainnya.
Melalui edukasi keselamatan berkendara, Astra Motor Kaltim 1 mengingatkan bahwa touring bukan sekadar konvoi, melainkan kegiatan yang membutuhkan manajemen risiko serta pembagian tugas yang jelas di dalam rombongan.
Dalam sebuah rombongan touring, setiap personel memiliki tanggung jawab masing-masing. Road Captain (RC) bertugas memimpin perjalanan, menentukan rute, mengatur kecepatan, hingga mengambil keputusan saat menghadapi kondisi darurat. Di barisan depan terdapat Front Guard (FG) yang membantu membuka jalur dan mengamankan persimpangan.
Sementara itu, Middle Man atau Marshall bertugas menjaga ritme dan kerapian formasi di tengah rombongan serta membantu pengamanan jalur apabila diperlukan. Adapun Sweeper berada di posisi paling belakang untuk memastikan tidak ada peserta yang tertinggal maupun mengalami kendala teknis selama perjalanan.
Selain pembagian tugas, Astra Motor Kaltim 1 juga mengingatkan pentingnya menerapkan prosedur operasional standar (SOP) selama touring. Pada kondisi jalan normal, rombongan dianjurkan menggunakan formasi staggered atau zig-zag agar tersedia ruang pengereman yang lebih aman. Sedangkan saat melintasi jalan sempit, tikungan tajam, hujan, atau ketika menyalip kendaraan lain, seluruh peserta wajib beralih ke formasi single file atau satu baris.
Pengendara juga diimbau menjaga jarak aman minimal dua hingga tiga detik dari kendaraan di depan untuk mengurangi risiko tabrakan sekaligus menghindari area blind spot.
Komunikasi antarpeserta menjadi aspek penting lainnya. Selain menggunakan alat komunikasi seperti handy talky (HT), seluruh peserta harus memahami isyarat tangan yang digunakan untuk memberikan informasi mengenai arah belok, kondisi jalan, keberadaan lubang, hingga situasi darurat.
Dalam kondisi rombongan terpisah akibat lampu lalu lintas atau persimpangan, Astra Motor Kaltim 1 menyarankan penerapan sistem wait-at-turn, yakni peserta di depan atau marshall menunggu hingga seluruh rombongan kembali berkumpul sebelum melanjutkan perjalanan.
Apabila terjadi kerusakan pada salah satu sepeda motor, hanya sweeper dan satu orang yang ditunjuk yang membantu proses penanganan. Sementara peserta lainnya tetap melanjutkan perjalanan menuju titik kumpul terdekat agar tidak menimbulkan penumpukan kendaraan di bahu jalan yang dapat membahayakan pengguna jalan lainnya.
Instruktur Safety Riding Astra Motor Kaltim 1, Muhammad Aditya Wicaksana, mengatakan keselamatan touring merupakan tanggung jawab seluruh peserta, bukan hanya pemimpin rombongan.
“Keselamatan touring tidak hanya berada di tangan Road Captain atau Sweeper, melainkan pada kedisiplinan setiap individu yang berada dalam barisan. Satu pelanggaran kecil dapat membahayakan seluruh rombongan. Berkendaralah dengan bijak, utamakan keselamatan, dan pastikan semua pulang dengan selamat,” ujarnya.
Melalui edukasi ini, Astra Motor Kaltim 1 berharap budaya berkendara yang aman dan tertib semakin melekat di kalangan komunitas sepeda motor. Dengan disiplin menjalankan aturan touring, perjalanan tidak hanya menjadi lebih nyaman, tetapi juga mampu meminimalkan risiko kecelakaan di jalan raya. (*)






