Lintasbalikpapan.com – Debut John Herdman bersama Timnas Indonesia memang berakhir dengan kemenangan telak 4-0 atas Timnas Saint Kitts and Nevis dalam ajang FIFA Series 2026. Namun, jika dilihat lebih dalam, performa Garuda belum sepenuhnya solid sejak menit awal.
Dalam 10 menit pertama, permainan Timnas Indonesia terlihat kurang tajam. Transisi antar lini belum berjalan mulus, dan beberapa pemain tampak masih beradaptasi dengan pendekatan taktik baru. Hal ini cukup wajar mengingat Herdman hanya memiliki waktu persiapan yang sangat singkat, yakni sekitar tiga hari.
Meski begitu, perlahan tim mulai menemukan ritme permainan. Koordinasi meningkat, aliran bola lebih hidup, dan peluang mulai tercipta hingga akhirnya berbuah empat gol tanpa balas. Ini menjadi sinyal positif bahwa fondasi taktik Herdman mulai terbentuk, meskipun belum sempurna.
Peran Jordi Amat: Kunci Stabilitas yang Sempat Terganggu
Salah satu sorotan utama dalam pertandingan ini adalah peran Jordi Amat yang dimainkan sebagai gelandang bertahan. Posisi ini sebenarnya bukan peran naturalnya, sehingga di awal pertandingan ia terlihat kesulitan menghadapi tekanan dari lawan.
Dengan minimnya dukungan di lini tengah, Jordi Amat kerap di tekan oleh beberapa pemain lawan sekaligus. Akibatnya, aliran bola ke depan menjadi terhambat dan permainan cenderung stagnan. Situasi ini membuat kontribusinya lebih defensif dan kurang progresif.
Namun, perubahan strategi yang di lakukan Herdman menjadi titik balik. Ketika Calvin Verdonk di tarik lebih ke tengah, keseimbangan lini tengah mulai terbentuk. Jordi Amat pun mendapatkan ruang lebih untuk berkembang.
Setelah perubahan tersebut, ia mulai berani naik membantu serangan dan bahkan menciptakan peluang berbahaya melalui sundulan. Ini menunjukkan bahwa dengan dukungan yang tepat, Jordi Amat mampu memberikan kontribusi lebih dari sekadar bertahan.
Kevin Diks dan Adaptasi Fisik: Tantangan di Sisi Sayap Timnas Indonesia
Selain lini tengah, perhatian juga tertuju pada performa Kevin Diks yang bermain sebagai wing back kanan. Dalam laga ini, kontribusinya dinilai belum maksimal, terutama dalam hal intensitas menyerang.
Faktor kebugaran menjadi salah satu penyebab utama. Perjalanan jauh, jetlag, serta adaptasi cuaca di duga memengaruhi performanya di lapangan. Sebagai pemain yang tidak mengandalkan kecepatan tinggi, Kevin Diks membutuhkan kondisi fisik prima untuk bisa tampil efektif dalam sistem permainan yang menuntut mobilitas tinggi.
Situasi mulai berubah ketika Ole Romeny turun membantu ke lini tengah. Pergerakan fleksibel Ole membuat sisi kanan lebih hidup, sekaligus mengurangi beban Kevin Diks untuk terus naik turun.
Dengan skema ini, Kevin Diks bisa lebih fokus menjaga keseimbangan pertahanan tanpa harus memaksakan diri menyerang secara intens. Hasilnya, permainan tim menjadi lebih stabil dan terorganisir.
Secara keseluruhan, kemenangan ini menjadi awal yang menjanjikan bagi era John Herdman. Meski belum sempurna, keberanian dalam melakukan penyesuaian taktik menjadi nilai plus. Jika waktu persiapan lebih panjang, bukan tidak mungkin Timnas Indonesia akan tampil jauh lebih solid dan konsisten di laga-laga berikutnya.






