Lintasbalikpapan.com – Laga antara Wolverhampton Wanderers melawan Arsenal pada pekan ke-31 Premier League musim 2025/2026 awalnya terlihat seperti pertandingan yang mudah ditebak. Tim papan bawah menjamu pemuncak klasemen di Molineux Stadium, dan banyak yang memperkirakan Arsenal akan menang nyaman.
Namun sepak bola selalu penuh kejutan. Pertandingan yang tampak satu arah justru berubah menjadi drama menegangkan di menit-menit akhir. Skor 2-2 menjadi bukti bahwa selisih posisi di klasemen tidak selalu mencerminkan jalannya laga di lapangan.
Arsenal Tampil Dominan Sejak Menit Awal
Arsenal langsung menunjukkan kualitasnya sejak kick-off. Baru lima menit berjalan, mereka sudah unggul melalui sundulan Bukayo Saka setelah menerima umpan matang dari Declan Rice. Gol cepat itu membuat tim tamu menguasai ritme permainan.
Sepanjang babak pertama, Arsenal mendominasi penguasaan bola dan membuat Wolves lebih banyak bertahan di area sendiri. Peluang tambahan sempat datang dari berbagai sisi, tetapi kiper Jose Sa tampil cukup sigap menjaga gawang tuan rumah.
Wolves sendiri kesulitan membangun serangan. Meski mencoba mengubah pendekatan permainan, mereka belum mampu menciptakan ancaman serius. Hingga turun minum, Arsenal masih unggul tipis 1-0 namun terlihat sepenuhnya mengontrol pertandingan.
Memasuki babak kedua, Arsenal kembali menunjukkan kelasnya. Pada menit ke-56, bek Piero Hincapie sukses lolos dari jebakan offside dan menuntaskan umpan terobosan dengan tembakan keras. Gol ini sempat membuat pertandingan terasa akan berakhir sesuai prediksi.
Unggul dua gol, Arsenal tampak semakin percaya diri. Mereka tetap mencoba menyerang dan bahkan hampir menambah keunggulan lewat peluang Gabriel Martinelli. Sayangnya, peluang tersebut berhasil digagalkan penyelamatan cepat Jose Sa.
Di titik ini, banyak yang mengira laga sudah selesai. Namun justru dari sinilah cerita mulai berubah.
Wolves Bangkit dan Mengubah Momentum
Hanya lima menit setelah gol kedua Arsenal, Wolves menemukan harapan. Bek kiri Hugo Bueno mencetak gol spektakuler dari luar kotak penalti. Sepakan melengkungnya tak mampu dijangkau David Raya.
Gol tersebut menjadi titik balik. Wolves tampil jauh lebih agresif, pressing meningkat, dan Arsenal mulai kehilangan kontrol permainan. Lini belakang tim tamu terlihat goyah menghadapi tekanan bertubi-tubi. Stadion pun semakin hidup. Dukungan suporter membuat Wolves bermain dengan energi baru, seolah lupa bahwa mereka sedang berada di dasar klasemen.
Saat pertandingan tampak akan dimenangkan Arsenal, drama terjadi di masa tambahan waktu. Dalam situasi kemelut di depan gawang, bek Riccardo Calafiori justru melakukan gol bunuh diri pada menit 90+4. Bola yang gagal diantisipasi dengan sempurna membuat skor berubah menjadi 2-2.
Hasil ini memang tidak menggoyahkan posisi Arsenal di puncak klasemen sementara. Namun kehilangan dua poin dari tim juru kunci jelas menjadi peringatan bahwa konsistensi tetap menjadi kunci dalam perebutan gelar.
Bagi Wolves, satu poin ini terasa seperti kemenangan moral. Meski masih berada di posisi terbawah, mereka menunjukkan bahwa semangat juang dapat mengubah jalannya pertandingan kapan saja.






