Lintasbalikpapan.com – Timnas Indonesia U-17 kembali menghadapi China dalam laga uji coba internasional yang digelar di Indomilk Arena, Tangerang. Hasil akhir memang belum berpihak pada Garuda Asia setelah kalah tipis 2-3, namun jika melihat jalannya pertandingan, ada cerita perkembangan yang patut diapresiasi.
Berbeda dengan pertemuan sebelumnya yang berakhir dengan kekalahan telak, kali ini Indonesia tampil jauh lebih kompetitif. China memang langsung mengambil inisiatif serangan sejak menit awal. Tekanan tinggi yang mereka bangun membuat lini pertahanan Indonesia harus bekerja keras. Hasilnya, tim tamu membuka skor lebih dulu lewat penyelesaian klinis Zhao Songyuan pada menit ke-10.
Gol tersebut sempat membuat tempo permainan di kuasai China. Indonesia terlihat kesulitan membangun serangan dari lini tengah. Namun, situasi bola mati menjadi momentum kebangkitan. Pada menit ke-23, tendangan bebas Chico Yericho Yarangga mengubah jalannya laga. Bola yang sempat mengenai pagar hidup mengecoh kiper lawan dan mengubah skor menjadi 1-1.
Gol ini bukan sekadar penyama kedudukan, tetapi juga simbol bahwa Indonesia mulai berani keluar dari tekanan. Meski China kembali unggul sebelum turun minum melalui He Sifan, permainan Garuda Asia tidak lagi terlihat inferior.
Mentalitas Indonesia U-17 Jadi Sorotan Positif
Memasuki babak kedua, perubahan paling mencolok dari Timnas Indonesia U-17 adalah mentalitas bertanding. Anak-anak asuh pelatih tampil lebih agresif dan percaya diri dalam melakukan pressing maupun transisi menyerang.
Hanya tiga menit setelah babak kedua di mulai, Indonesia mendapatkan hadiah penalti. Miraj Rizky dengan tenang menjalankan tugasnya sebagai algojo dan menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Gol ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga efektif memanfaatkan peluang.
Sepanjang babak kedua, intensitas serangan Indonesia meningkat. Mierza sempat mendapatkan peluang emas usai menusuk ke dalam kotak penalti, meski penyelesaiannya belum maksimal. Dava Yunna Adi Putra juga menunjukkan keberanian duel satu lawan satu sebelum melepaskan tembakan yang masih bisa di amankan kiper China.
Di sisi lain, peran kiper Noah Leo Duvert patut mendapat pujian. Ia melakukan penyelamatan krusial pada menit ke-75 saat menggagalkan peluang jarak dekat Shuai Weihao. Refleks cepatnya menjaga asa Indonesia tetap hidup hingga menit-menit akhir.
Tekanan demi tekanan yang dibangun Garuda Asia membuktikan adanya peningkatan koordinasi antar lini. Mereka tidak lagi mudah panik ketika tertinggal dan mampu merespons situasi dengan lebih tenang.
Pelajaran Berharga Jelang Turnamen Resmi
Meski akhirnya harus menerima kenyataan pahit akibat gol bunuh diri di detik-detik akhir, laga ini menyimpan banyak pelajaran penting. Tembakan Zhang Bolin yang membentur tiang sebelum mengenai tubuh Noah Leo dan masuk ke gawang sendiri memang terasa menyakitkan. Namun dalam sepak bola, detail kecil sering kali menjadi penentu.
Dari pertandingan ini, terlihat bahwa Timnas Indonesia U-17 mulai menemukan keseimbangan antara bertahan dan menyerang. Struktur permainan lebih rapi, distribusi bola lebih terarah, dan keberanian mengambil inisiatif mulai tumbuh.
Kekalahan 2-3 tentu bukan hasil ideal, tetapi jika di bandingkan dengan pertemuan sebelumnya, progresnya sangat jelas. Tim pelatih kini memiliki gambaran konkret tentang area yang perlu di perbaiki, terutama dalam menjaga konsentrasi di menit-menit akhir serta memaksimalkan peluang.
Bagi para pendukung Garuda Asia, pertandingan ini memberikan harapan. Indonesia U-17 tidak lagi sekadar menjadi pelengkap dalam laga uji coba internasional, melainkan mampu bersaing hingga detik terakhir.
Jika konsistensi peningkatan ini terus dijaga, bukan tidak mungkin Timnas Indonesia U-17 akan tampil lebih matang dan kompetitif di turnamen resmi mendatang. Kekalahan kali ini bisa menjadi fondasi mental yang kuat untuk menghadapi tantangan yang lebih besar ke depan.






