Debut Layvin Kurzawa, Gagal Selamatkan Persib Bandung dari Kekalahan di ACL Two!

Lintasbalikpapan.com – Hasil pahit harus diterima Persib Bandung saat bertandang ke markas Ratchaburi FC pada leg pertama babak 16 besar AFC Champions League Two (ACL 2) 2025/2026. Maung Bandung takluk dengan skor telak 0–3 dalam laga yang berlangsung Rabu (11/2/2026) malam.

Sorotan utama tentu tertuju pada debut internasional Layvin Kurzawa bersama Persib. Bek kiri berpengalaman yang pernah membela Paris Saint-Germain itu akhirnya merasakan atmosfer kompetisi Asia bersama klub barunya. Namun, momen tersebut datang dalam situasi yang kurang ideal.

Kurzawa baru masuk pada menit ke-83 menggantikan Alfeandra Dewangga. Dengan waktu bermain yang sangat terbatas, sulit mengharapkan dampak besar dari pemain yang bahkan belum genap dua pekan berlatih bersama tim. Masuknya Kurzawa pun terjadi saat Persib Bandung sudah berada dalam tekanan berat.

Ironisnya, tak lama setelah ia menginjak lapangan, Ratchaburi justru menambah gol ketiga mereka. Situasi ini semakin memperlihatkan betapa beratnya kondisi yang harus dihadapi pemain anyar tersebut. Debutnya lebih terasa sebagai proses pengenalan terhadap tempo permainan Asia Tenggara ketimbang momen pembuktian kualitas.

Meski demikian, ada satu catatan menarik. Di masa tambahan waktu, Kurzawa sempat mengambil peran dalam situasi bola mati. Sebuah tendangan bebas yang ia kirimkan nyaris menciptakan peluang, meski akhirnya gagal dimaksimalkan akibat miskomunikasi dengan Sergio Castel. Detail kecil ini menunjukkan bahwa chemistry antarpemain masih membutuhkan waktu.

Evaluasi Taktik dan Tantangan Adaptasi Skuad Baru Persib Bandung

Kekalahan 0–3 bukan sekadar persoalan individu, melainkan cerminan dari sejumlah celah taktis yang belum tertutup. Ratchaburi tampil agresif sejak awal laga, memanfaatkan kecepatan transisi dan disiplin organisasi pertahanan mereka.

Persib Bandung terlihat kesulitan membangun serangan dari lini tengah. Aliran bola kerap terputus sebelum memasuki area berbahaya. Ketika mencoba bermain lebih direct, lini depan juga belum cukup efektif dalam menyelesaikan peluang.

Masuknya sejumlah pemain baru seperti Kurzawa, Sergio Castel, dan Dion Markx memang memberikan harapan besar bagi Bobotoh. Namun integrasi pemain anyar dalam kompetisi sekelas ACL 2 jelas tidak bisa instan. Adaptasi terhadap taktik pelatih Bojan Hodak, komunikasi di lapangan, hingga pemahaman karakter rekan setim membutuhkan proses.

Dalam konteks Kurzawa, tantangan terbesarnya bukan hanya adaptasi teknis, tetapi juga ritme permainan. Sepak bola Asia Tenggara dikenal memiliki intensitas tinggi dengan tekanan cepat. Bagi pemain yang baru bergabung dan minim menit bermain, membaca pola tersebut dalam waktu singkat tentu bukan perkara mudah.

Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah penting jelang leg kedua. Bukan hanya soal memperbaiki lini belakang, tetapi juga bagaimana membangun keseimbangan antara pemain lama dan wajah baru agar skema permainan lebih solid.

Peluang Bangkit di GBLA: Misi Sulit Tapi Bukan Mustahil

Tertinggal tiga gol tentu bukan situasi ideal. Namun sepak bola selalu menyimpan ruang untuk kejutan, terlebih ketika leg kedua digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada 18 Februari 2026.

Dukungan penuh Bobotoh bisa menjadi faktor psikologis yang signifikan. Atmosfer kandang sering kali mampu mengangkat moral tim, terutama dalam laga hidup-mati seperti ini. Persib membutuhkan start cepat dan gol awal untuk membuka peluang comeback.

Salah satu kunci utama adalah keberanian bermain lebih agresif sejak menit pertama. Persib tak bisa menunggu terlalu lama untuk mengambil inisiatif serangan. Selain itu, koordinasi lini belakang harus jauh lebih disiplin agar tidak kembali kebobolan lewat serangan balik.

Bagi Kurzawa, leg kedua bisa menjadi panggung pembuktian sesungguhnya. Dengan waktu latihan yang lebih panjang bersama tim, peluang tampil sejak awal laga terbuka lebar. Jika chemistry mulai terbentuk, kontribusinya di sektor kiri bisa menjadi senjata tambahan bagi Maung Bandung.

Kini, fokus Persib bukan lagi meratapi kekalahan di Thailand, melainkan mempersiapkan strategi terbaik untuk membalikkan keadaan. Tantangannya besar, tetapi bukan mustahil. Sepak bola Asia kerap menghadirkan cerita dramatis, dan Persib masih memiliki 90 menit untuk menulis babak baru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *