Lintasbalikpapan.com – Copa del Rey kembali membuktikan diri sebagai kompetisi penuh kejutan. Real Madrid harus mengubur ambisi meraih trofi setelah secara dramatis tumbang 2-3 dari Albacete di babak 16 besar. Bermain di Stadion Carlos Belmonte, Kamis (15/1) dini hari WIB, Los Blancos gagal memaksimalkan dominasi permainan dan harus menerima kenyataan pahit disingkirkan klub kasta kedua Liga Spanyol.
Hasil ini terasa menyesakkan, terlebih karena Madrid datang dengan status unggulan. Namun, sepak bola bukan sekadar soal nama besar. Albacete menunjukkan bahwa disiplin, efektivitas, dan keberanian bisa menjadi senjata mematikan, bahkan melawan raksasa sekelas Real Madrid.
Dominasi Tanpa Efektivitas Jadi Masalah Utama Real Madrid
Sejak menit awal, Madrid tampil dominan dalam penguasaan bola. Arda Guler, Federico Valverde, hingga Vinicius Junior silih berganti mencoba menembus pertahanan lawan. Peluang cepat Valverde di menit keenam menjadi sinyal bahwa Madrid ingin mengakhiri laga lebih awal.
Sayangnya, dominasi tersebut tidak dibarengi ketajaman. Albacete justru tampil lebih efisien dengan mengandalkan serangan balik cepat dan bola mati. Madrid memang lebih sering mengurung pertahanan lawan, namun minim variasi penyelesaian akhir yang benar-benar mematikan.
Situasi ini memperlihatkan pekerjaan rumah besar bagi pelatih anyar, Alvaro Arbeloa. Di bawah arahannya, Madrid tampak masih mencari keseimbangan antara penguasaan bola dan efektivitas serangan.
Bola Mati dan Serangan Balik Jadi Senjata Albacete
Albacete layak mendapat pujian atas pendekatan taktis mereka. Bermain tanpa rasa inferior, klub Segunda Division ini berani menekan di momen-momen tertentu dan disiplin saat bertahan. Gol pembuka yang lahir dari sepak pojok menjadi bukti bahwa mereka mempelajari celah Madrid dengan baik.
Sundulan Javi Villar menjelang akhir babak pertama membuat stadion bergemuruh. Meski Madrid mampu menyamakan kedudukan lewat Franco Mastantuono di injury time, kepercayaan diri Albacete tidak runtuh. Justru mereka semakin berani mengambil risiko di babak kedua.
Gol kedua Albacete pada menit ke-82 kembali memperlihatkan lemahnya antisipasi Madrid terhadap bola rebound. Dalam laga seketat ini, detail kecil seperti itu menjadi pembeda yang sangat menentukan.
Mental Baja Albacete, Madrid Kehabisan Jawaban
Madrid sempat kembali menyamakan kedudukan lewat sundulan Gonzalo Garcia di masa injury time, memanfaatkan sepak pojok Arda Guler. Pada momen tersebut, banyak yang mengira pengalaman Madrid akan berbicara dan laga berlanjut ke perpanjangan waktu.
Namun Albacete punya rencana lain. Jefte Betancor muncul sebagai pahlawan dengan gol ketiganya yang mematikan. Penyelesaian akhir yang tenang di saat krusial memperlihatkan mental baja tuan rumah, sekaligus menjadi pukulan telak bagi Madrid.
Kekalahan ini menegaskan bahwa Madrid belum sepenuhnya stabil, terutama dalam mengelola momen penting saat pertandingan berada di ujung tanduk. Gugurnya Real Madrid di babak 16 besar memastikan mereka gagal meraih trofi Copa del Rey musim 2025/2026. Ini menjadi alarm serius bagi Arbeloa dan tim pelatih, terutama dalam hal konsistensi lini belakang dan penyelesaian akhir.
Bagi Albacete, kemenangan ini bukan hanya tiket ke perempat final, tetapi juga momen bersejarah yang akan dikenang pendukung mereka. Sementara bagi Madrid, hasil ini menjadi pengingat bahwa nama besar saja tidak cukup di kompetisi seketat Copa del Rey.
Jika Madrid ingin kembali mendominasi, evaluasi menyeluruh mutlak diperlukan—bukan hanya soal taktik, tetapi juga mental bertanding dan efektivitas di depan gawang.






