Home Sosok Setahun Pandemi di Balikpapan, Begini Kondisi Pasien Pertama?

Setahun Pandemi di Balikpapan, Begini Kondisi Pasien Pertama?

SHARE
Setahun Pandemi di Balikpapan, Begini Kondisi Pasien Pertama?

Keterangan Gambar : Wahib Herlambang saat mendonorkan darah konvalesen

LINTASBALIKPAPAN - Tepat hari ini setahun sudah Pandemi Covid-19 di kota Balikpapan. Dimana kala itu seorang warga Balikpapan bernama Wahib Herlambang menjadi orang pertama yang terpapar Covid-19 di kota minyak itu. 


Pasca dinyatakan positif, sontak warga Balikpapan langsung heboh sekaligus panik. Momen inilah yang takkan dilupa oleh masyarakat Balikpapan lantaran dari sinilah pola kehidupan mendadak berubah 180 derajat. Termasuk kehidupan si pasien yakni Wahib Herlambang.


Wahib menuturkan pasca dirinya dinyatakan positif, seluruh kehidupannya sangat berdampak. Mulai dari sanksi sosial bahkan berdampak pada usahanya. Ya, Wahib yang juga pengusaha kuliner Roti Gembung ini pun ikut anjlok seketika. Dimana setelah tahu dirinya terpalar Covid-19, pelanggannya mendadak menjauh dan enggan membeli dagangannya.


"Saat itu banyak yang nanya kalau ownernya positif. Sempat sepi dan berkurang pembeli, tapi ya nggak apa-apa, kan memang orang saat itu belum terbiasa, belum tahu, kalau sudah tahu ya nggak," katanya.


Ia pun harus membangun kembali usahanya pasca dinyatakan sembuh dan kembali menyosialisasikan kepada para pelanggan bahwa usahanya tidak ada kaitannya dengan Covid-19. Alhasil saat ini usahanya kembali normal meski tidak sejaya dulu.


Tak hanya usahanya, kehidupan sehari-hari ikut berdampak. Bahkan ia sempat dijauhi oleh teman-temannya lantaran mengetahui dirinya terpapar Covid-19. Apalagi Wahib sempat mengunggah video aktivitasnya di ruang isolasi.


"Memang waktu awal-awal sih ada yang jaga jarak, tapi sekarang sudah teredukasi, malah sekarang banyak yang konsultasi sama saya mengenai Covid-19," ujarnya.


Sisi lain yang ia sangat rasakan kala itu penyakit langka ini memutus silaturahmi dan memberi jarak antara pasien dan orang sekitar. Termasuk rekan dan keluarganya yang meninggal terpapar Covid-19 tanpa dihadiri sanak saudaranya. Disitu Wahib tergerak hatinya untuk turut membantu memakamkan dengan menggunakan hazmat. Wahib diizinkan lantaran merupakan alumni atau penyintas yang pernah terpapar Covid-19.


"Sedih mas, teman meninggal nggak ada yang mau dekat. Keluarganya nggak ada yang ke pemakaman, nggak ada yang urusin. Jadi saya inisiatif untuk urusin bahkan sampai ke pemakaman. Saya ikut menguburkan pakai APD. Karena saya berpikir saya dulu pernah dalam kondisi ini, seandainya saya mati mungkin saya seperti ini kali," terangnya.


Dampak lain juga dirasa oleh istri dan kedua anaknya. Mereka pun sempat dijauhi oleh lingkungan sekitar maupun rekan-rekannya. Beruntung edukasi yang terus berjalan sehingga saat ini sudah tidak begitu terasa.


"Iya anak istri saya di awal aja dampaknya, sempat dijauhin, tapi alhamdulillah tetangga saya itu bagus jadi walaupun ada yang positif tetap ada yang bantu," tuturnya.


Setahun berlalu ia pun kembali mengenang masa-masa itu. Namun setelah dinyatakan sembuh Wahib rutin mendonorkan darahnya (konvalesen) untuk mereka yang sedang dalam gejala berat. Kini ia haya bisa berharap pandemi berakhir dan menjadi penyakit biasa alias endemik.


"Ya harapannya sih cepat selesai. Mudah-mudahan antivirus yang dijalankan pemerintah bisa berfungsi maksimal sehingga ini bisa menjadi penyakit biasa. Sebab kalau menunggu semuanya kena ya sampai kapan," pungkasnya. (Mdy)