Home Viral 7 KK Terisolir Akibat Jalan Ditembok Pemilik Lahan, Warga Keluar Masuk Lewat Loteng

7 KK Terisolir Akibat Jalan Ditembok Pemilik Lahan, Warga Keluar Masuk Lewat Loteng

SHARE
7 KK Terisolir Akibat Jalan Ditembok Pemilik Lahan, Warga Keluar Masuk Lewat Loteng

Keterangan Gambar : Akses satu-satunya warga di RT 51 No 9 dan 11 ditembok pemilik lahan

LINTASBALIKPAPAN - Akses jalan warga di RT 51 No 11 dan 9 KM 4,5 Kelurahan Batu Ampar, Balikpapan Utara ditutup tembok setinggi dua meter oleh pemilik lahan lantaran lahan tersebut akan dijual kepada pembeli. Akibatnya sekitar 7 KK terisolir lantaran jalan tersebut merupakan akses satu-satunya warga untuk beraktivitas. 


Saat media ini mendatangi lokasi tersebut, sekitar 3 rumah terisolir oleh tembok berbahan batako tersebut. Di sekeliling lahan bahkan di pagar seng setinggi dua meter menandakan kepemilikan lahan bernama H Hasan (alm). Lantaran ditutup tembok, warga pun terpaksa keluar masuk dengan cara memanjat tangga dan masuk melalui loteng rumah Nomor 11 yang dihuni oleh Joni (73). 


Polemik tersebut bermula saat ahli waris H Hasan (alm) bernama Rusdi (44) hendak menjual lahan miliknya. Dimana lahan tersebut termasuk akses jalan utama Joni dan beberapa warga lainnya. Rusdi yang telah mendapatkan calon pembeli pun diminta memastikan bahwa lahan yang akan dibeli tidak bermasalah. Alhasil pada Sabtu (4/9) jalan tersebut dipasang tembok setinggi dua meter. 


"Saya tahun 1995 mecah sertifikat ke notaris kesepakatan sama bapak angkat saya Bu Saran dan H Hasan. Habis itu saya bikin rumah sedikit demi sedikit, tiba-tiba setelah 35 tahun bilangnya nggak ada jalan," kata Joni. 


Senada dengan sang anak yaknu Suhartini mengatakan bahwa jalan tersebut telah dilakukan semenisasi oleh pihak pemerintah. Namun ia terkejut saat pihak Rusdi mendadak membawa tukang melakukan penutupan jalan dengan membangun tembok serta memagari area lahan dengan seng. 


"ini jalan sudah masuk ke Pemkot, orang pemkot yang semenisasi, artinya pemkot mengakui kalau ini sebenarnya jalan. Makanya kami menanyakan dimana sih aspek kemanusiaannya. Bahkan pas nembok tukangnya ngasih sedikit jalan tapi pemilik tanah bilang tutup aja. Kami ya nggak ada bergeming sedikit pun ketika jalan ditutup dan dia pun tidak ada izin mau nutup, nggak ada permisi," tuturnya. 


Suhartini mengakui bahwa dari sisi legalitas memang kalah, namun ia meminta sisi kemanusiaan dari pihak Rusdi agar memberikan solusi jangka pendek, sebab banyak warga yang beraktivitas namun terhambat akibat adanya pemagaran dan pemasangan tembok. 


"Saya tanya jangka pendeknya bagaimana karena disini warga ada aktivitas, dijawabnya diserahkan ke kelurahan. Katanya sih mau di mediasi tapi sampai sekarang blm ada," bebernya. 


Sementara itu Rusdi membenarkan dirinya hendak menjual lahan tersebut lantaran ada calon pembeli. Pemagaran tersebut dilakukan lantaran calon pembeli ingin memastikan lahan tersebut tidak ada masalah. Namun bukan berarti dirinya melakukan pemagaran dan penembokan secara mendadak, melainkan telah melalui sejumlah mediasi dan memberikan tengat waktu kepada warga hingga lima bulan. 


"Kami itu intinya mau menjual lahan kami, jadi berdasarkan sertifikat itu kami mau menjual. Dan ada pihak pembeli, cuma mereka minta meyakinkan bahwa sertifikat atau tanah itu tidak bermasalah, ya kami lakukan pemagaran. Tapi pemagaran itu bukan ujuk-ujuk langsung di pagar. Tapi proses ini sudah masuk bulan ke lima baru kami lakukan pemagaran, jadi bukan langsung di pagar," kata Rusdi dihadapan awak media. 


Ditanya apakah jalan termasuk masuk kategori fasilitas umum (fasum), Rusdi membantah. Ia mengatakan jalan tersebut masih masuk didalam sertifikat lahannya dan ia tidak pernah mendapat informasi bahwa jalan tersebut adalah fasum. 


"Itu bukan fasum, sesuai dengan sertifikat tanah yang resmi dikeluarkan BPN," ujarnya. 


Rusdi juga menjelaskan sejatinya pihaknya telah memberikan tengat waktu terhadap warga agar segera mencari solusi dari opsi yang ditawarkan, yakni pembuatan jalan baru atau menjual rumah. Namun hingga bulan kelima warga tidak melakukan apapun, alhasil Rusdi pun membangun tembok menutup akses warga. 


"Sudah ada opsi yang ditawarkan, kami ini tidak mau memaksa orang mau dijual atau tidak, itu hak orang. Kami tanyakan opsi dari RT, opsinya kalau tidak dijual yakni dibuat jalan di tanah kosong disitu, pemilik lahannya sudah mengizinkan selama dia tidak memakai. Tapi mereka nggak ada action, ya kita nggak bisa paksa," jelasnya. 


Bahkan tanah tersebut sejatinya telah disetujui untuk dibeli oleh pembeli dan warga, namun saat transaksi pihak warga membatalkan melalui saluran telepon. 


"Nah saya dapat kabar setelah mereka mau melakukan transaksi karena sudah deal, ternyata atas nama pemilik sertifikat itu membatalkan secara sepihak by phone. Jadi calon pembeli memberitahu kami tidak jadi, loh kami kaget, karena kemarin katanya sudah (deal). Ya kita nggak bisa apa-apa karena itu kan keputusan dia," ungkapnya. (Mdy)